Kilas Berita Hukum dan Peraturan Perundang-undangan

Indonesia Corruption Watch (ICW) menilai calon pimpinan KPK Jimly Asshiddiqie sebagai calon yang tidak mau diawasi.

"Jangan sampai KPK dipimpin oleh orang yang antipengawasan," ujar Koordinator Divisi Hukum dan Monitoring Peradilan ICW, Febri Diansyah, kepada primaironline.com, Selasa (17/8), di Jakarta.

Menurut dia, dari proses seleksi saja, sudah dapat dinilai siapa calon yang resisten terhadap pengawasan.

"Sayang sekali, bagaimana mungkin bisa memimpin KPK kalau tidak akuntabel dan tidak mau diawasi? Kami akan jaga KPK dalam proses seleksi ini," kata dia.

Selanjutnya, Febri mengaku tidak mau mengambil pusing atas pernyataan mantan Ketua Mahkamah Konstitusi tersebut.

"Silakan saja Jimly bilang ICW tidak bersih. ICW tetap fokus lakukan investigasi terhadap semua calon pimpinan KPK, termasuk Jimly tentunya," kata dia.

Sebelumnya diberitakan, Jimly menyatakan penelusuran rekam jejak calon pimpinan KPK oleh Indonesia Corruption Watch (ICW) mengandung unsur perlawanan terhadap calon lain di luar dua calon yang diinginkan ICW untuk lolos.

"Pasti dia (ICW) usulkan dua nama, dan keduanya berasal dari LBH (Lembaga Bantuan Hukum)," ujar Jimly ketika berbincang dengan primaironline.com, di Jakarta, Selasa (17/8). Namun, Jimly enggan menyebut dua nama jagoan ICW itu.

Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) itu pun menyerang balik. ICW disebutnya bukan lembaga bersih seperti yang dikira oleh masyarakat saat ini. "Siapa yang menjamin anak-anak ICW itu bukan anak koruptor?" kata Jimly.

Ia pun menantang membuktikan ucapannya dalam waktu  seminggu untuk melakukan penelusuran rekam jejak aktivis ICW. "Tidak terlalu sulit buat saya, lihat saja latar belakang orang tuanya, seorang PNS bukan," kata dia.

Dia menegaskan, pernyataan tersebut sengaja dikeluarkan dirinya lantaran ia habis kesabaran menangkis tudingan ICW terhadapnya, termasuk soal dugaan Jimly menerima dana abadi umat (DAU) dan titipan Istana.

Jimly mengaku prihatin dengan tudingan yang disebut Jimly tidak beraturan itu. Hal seperti itu, sambung Jimly, makin membuat koruptor tertawa lebar. "Apa mau kita mencari-cari kesalahan? Kaum reformis seperti ini sengaja diadu domba," kata dia.

 

 

Sumber: Primaironline