Kamis, 23 Oktober 2014
   
Text Size

Undang-undang No. 23 tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga (UU-PKDRT)

Fakta Kekerasan dalam Rumah Tangga

KDRT adalah persoalan yang rumit untuk dipecahkan. Ada banyak alasan. Boleh  jadi, pelaku KDRT benar-benar tidak menyadari bahwa apa yang telah ia lakukan adalah merupakan tindak KDRT. Atau, bisa jadi pula, pelaku menyadari bahwa perbuatan yang dilakukannya merupakan tindakan KDRT. Hanya saja, ia mengabaikannya lantaran berlindung diri di bawah norma-norma tertentu yang telah mapan dalam masyarakat. Sehingga menganggap perbuatan KDRT sebagai hal yang wajar dan pribadi .

 

Definisi Kekerasan dalam Rumah Tangga atau KDRT, sebagaimana dikemukakan  dalam Pasal 1 UU Nomor 23 tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga (UU PKDRT) adalah setiap perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan, yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, seksual, psikologis, dan/atau penelantaran rumah tangga termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan, pemaksaan, atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup rumah tangga. UU PKDRT ini lahir melalui perjuangan panjang selama lebih kurang tujuh tahun yang dilakukan para aktivis gerakan perempuan dari berbagi elemen.

Di Indonesia, secara legal formal, ketentuan ini mulai diberlakukan sejak tahun 2004. Misi dari Undang-undang ini adalah sebagai upaya, ikhtiar bagi penghapusan KDRT. Dengan adanya ketentuan ini, berarti negara bisa berupaya mencegah terjadinya kekerasan dalam rumah tangga, menindak pelaku kekerasan dalam rumah tangga, dan melindungi korban akibat KDRT. Sesuatu hal yang sebelumnya tidak bisa terjadi, karena dianggap sebagai persoalan internal keluarga seseorang. Pasalnya, secara tegas dikatakan bahwa, tindakan keekerasan fisik, psikologis, seksual, dan penelantaran rumah tangga (penelantaran ekonomi) yang dilakukan dalam lingkup rumah tangga merupakan tindak pidana. Tindakan-tindakan tersebut mungkin biasa dan bisa terjadi antara pihak suami kepada isteri dan sebaliknya, atapun orang tua terhadap anaknya. Sebagai undang-undang yang membutuhkan pengaturan khusus, selain berisikan pengaturan sanksi pidana, undang-undang ini juga mengatur tentang hukum acara, kewajiban negara dalam memberikan perlindungan segera kepada korban yang melapor. Dengan demikian, bisa dikatakan bahwa ketentuan ini adalah sebuah terobosan hukum yang sangat penting bagi upaya penegakan HAM, khusunya perlindungan terhadap mereka yang selama ini dirugikan dalam sebuah tatanan keluarga atau rumah tangga.

Terobosan hukum lain yang juga penting dan dimuat di dalam UU PKDRT adalah identifikasi aktor-aktor yang memiliki potensi terlibat dalam kekerasan. Pada Pasal 2 UU PKDRT disebutkan bahwa lingkup rumah tangga meliputi (a) suami, isteri, dan anak, (b) orang-orang yang memiliki hubungan keluarga sebagaimana dimaksud pada huruf (a) karena hubungan darah, perkawinan, persusuan, pengasuhan, dan perwalian, yang menetap dalam rumah tangga dan atau (c) orang-orang yang bekerja membantu rumah tangga dan menetap dalam rumah tangga tersebut sehingga dipandang sebagai anggota keluarga. Identifikasi kekerasan terhadap pekerja rumah tangga sebagai kekerasan domestik sempat mengundang kontraversi karena ada yang berpendapat bahwa kasus tersebut hendaknya dilihat dalam kerangka relasi pekerjaan (antara pekerja dengan majikan). Meskipun demikian, UU PKDRT mengisi jurang perlindungan hukum karena sampai saat ini undang-undang perburuhan di Indonesia tidak mencakup pekerja rumah tangga. Sehingga korban kekerasan dalam rumah tangga adalah orang yang mengalami kekerasan dan/atau ancaman kekerasan dalam lingkup rumah tangga.

UU PKDRT merupakan terbosan hukum yang positif dalam ketatanegaraan Indonesia. Dimana persoalan pribadi telah masuk menjadi wilayah publik. Pada masa sebelum UU PKDRT ada, kasus-kasus KDRT sulit untuk diselesaikan secara hukum. Hukum Pidana Indonesia tidak mengenal KDRT, bahkan kata-kata kekerasan pun tidak ditemukan dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP). Kasus-kasus pemukulan suami terhadap isteri atau orang tua terhadap anak diselesaikan dengan menggunakan pasal-pasal tentang penganiayaan, yang kemudian sulit sekali dipenuhi unsur-unsur pembuktiannya, sehingga kasus yang diadukan, tidak lagi ditindaklanjuti.

Catatan tahunan komnas perempuan sejak tahun 2001 sampai dengan 2007 menunjukkan peningkatan pelaporan kasus KDRT sebanyak lima kali lipat. Sebelum UU PKDRT lahir yaitu dalam rentang 2001 – 2004 jumlah kasus yang dilaporkan sebanyak 9.662 kasus. Sejak diberlakukannya UU PKDRT 2005 – 2007, terhimpun sebanyak 53.704 kasus KDRT yang dilaporkan.

Data kekerasan 3.169 tahun 2001, 5.163 tahun 2002, 7.787 tahun 2003, 14.020 tahun 2004, 20.391 tahun 2005, 22.512 tahun 2006, dan 25.522 tahun 2007. Jumlah Kekerasan terhadap Perempuan (KtP) mulai meningkat dengan cukup tajam sejak tahun 2004 (lebih dari 44% dari tahun 2003) dan tahun-tahun berikut kenaikan angka KtP berkisar antara 9% - 30% (tahun 2005, 30% tahun 2006), 9% dan tahun 2007 11%.

KTP ini mayoritas ditempati menurut ranah kekerasan. Maka KDRT cenderung meningkat dari tahun ke tahun. Bahkan lonjakan tajam antara tahun 2004 (4.310 kasus) ke tahun 2005 (16.615 kasus). Dari data 25.522 kasus KtP pada tahun 2007, KDRT terdapat 20.380 kasus, KtP di komunitas 4.977 kasus, dan KtP dengan pelaku negara 165 kasus. Dari 215 lembaga dan tersebar dari 111 pulau yang memberikan datanya kepada Komnas Perempuan, data terbanyak berasal dari Pulau Jawa (2 di Banten, 7 di Yogyakarta, 22 di Jawa Barat, 29 di Jawa Tengah, dan 31 di Jawa Timur).

Kecenderungan meningkatnya kasus KDRT yang dilaporkan ini menunjukkan adanya bangunan kesadaran masyarakat tentang kekerasan khusunya kekerasan yang terjadi di ranah rumah tangga pada umumnya  dan kesadaran serta keberanian perempuan korban  untuk melaporkan kasus KDRT yang dialaminya,pada khususnya.

Banyaknya  kasus yang dalam perjalannnya dicabut oleh pelapor yang sekaligus juga korban, lebih karena banyaknya beban gender perempuam korban yang seringkali harus ditanggung sendiri,, kuatnya budaya patriarkhi, doktrin agama, dan adat menempatkan perempuan korban kekerasan dalam rumah tangga dalam situasi yang sulit untuk keluar dari lingkar kekerasan yang dialaminya, dab cenderung ragu untuk mengungkap fakta kekerasannya, bahkan korban sulit mendapat dukungan dari keluarga maupun komunitas. Keyakinan ’berdosa’ jika menceritakan ’kejelekan, keburukan, atau aib’ suami membuat banyak perempuan korban kekerasan dalam rumah tangga menyimpan dalam-dalam berbagai bentuk kekerasan yang dialaminya.

 

Perempuan korban menggapai keadilan

PA merupakan tempat rujukan terbanyak perempuan korban KDRT menggantungkan keadilan, meskipun fakta KDRT terbanyak tersembunyi dalam gugat cerai, para perempuan korban, sehingga pengungkapan kekerasannya sendiri tidak terungkap. Dengan demikian proses hukum KDRT itu sendiri tidak pernah berjalan. Kasus KDRT terbanyak terdapat di PA yakni 41% dari 20.380 kasus. Ini menunjukkan bahwa kasus gugat cerai di PA sebagian besar berkaitan dengan kasus KDRT. Di PA ada 6.212 kasus penelantaran ekonomi dan 1.582 kasus kekerasan psikis. Dari jumlah kasus KDRT ini ada 17.772 kasus terindentifikasi sebagai kekerasan terhadap isteri.

Sayangnya, sekalipun pengadilan agama menjadi lembaga yang paling banyak menangani kasus KDRT (penelantaran ekonomi dalam perkara gugat cerai) tetapi mereka tidak menggunakan UU PKDRT sebagai acuan. Pemisahan antara perkara perdata (cerai) dan pidana (KDRT) dalam sistem peradilan Indonesia ternyata tidak menguntungkan kepentingan perempuan korban untuk mendapatkan keadilan.

Dalam rangka memberikan layanan bagi perempuan korban KDRT diantara beberapa lembaya yang terlibat yakni pertama, Women Crisis Center (WCC), atau organisasi perempuan penyedia layanan. Setidaknya ada delapan macam pelayanan yang biasa diberikan WCC adalah hotline, layanan konseling, support group, pendampingan hukum, penyediaan rumah aman atau shelter, terapi psikologi, pelayanan medis, dan penguatan ekonomi. Kedua, Rumah Sakit. Peran aktif RS dalam memberikan layanan bagi perempuan korban kekerasan dikembangkan oleh Komnas Perempuan dan RSCM Jakarta. Yang kemudian diadopsi diberbagai lembaga kesehatan lainnya. Ketiga, Unit Pelayanan Perempuan dan Anak (UUPA) adalah tindak lanjut dari Ruang Pelayanan Khusus (RPK) yang dibentuk sejak tahun 1999 di Kepolisian, saat UUPA menjadi unit tersendiri dalam struktur kepolisian berdasarkan Peraturan Kapolri No 10/2007. Dan terakhir keempat, Kejaksaan yang telah mengalokasikan dana secara rutin untuk menangani kasus KtP. Lembaga ini juga mengintegrasikan jender sebagai salah satu bidang pendidikan yang diajarkan kepada aparatnya.  


Menuju Upaya Pemenuhan Hak-hak Korban

Harus diakui kehadiran UU PKDRT membuka jalan bagi terungkapnya kasus KDRT dan upaya perlindungan hak-hak korban. Dimana, awalnya KDRT dianggap sebagai wilayah privat yang tidak seorang pun diluar lingkungan rumah tangga dapat memasukinya. Lebih kurang empat tahun sejak pengesahannya pada tahun 2004, dalam perjalannnya UU ini masih ada beberapa  pasal yang tidak menguntungkan bagi perempuan korban kekerasanm.   PP No 4 tahun 2006 tentang Pemulihan merupakan peraturan pelaksana dari UU ini, yang diharapkan mempermudah  proses implementasi UU sebagaimana yang tertera dalam mandat UU ini.

Selain itu, walapun UU ini dimaksudkan memberikan efek jera bagi pelaku KDRT, ancaman hukuman yang tidak mencantumkan hukuman minimal dan hanya hukuman maksimal sehingga berupa ancaman hukuman alternatif kurungan atau denda dirasa terlalu ringan bila dibandingkan dengan dampak yang diterima korban, bahkan lebih menguntungkan bila menggunakan ketentuan hukum sebagaimana yang diatur dalam KUHP. Apalagi jika korban mengalami cacat fisik, psikis, atau bahkan korban meninggal. Sebagai UU yang memfokuskan pada proses penanganan hukum pidana dan penghukuman dari korban, untuk itu, perlu upaya strategis diluar diri korban guna mendukung dan memberikan perlindungan bagi korban dalam rangka mengungkapkan kasus KDRT yang menimpanya.

 

Komitmen Komnas Perempuan

Sebagai Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) yang independen, sesuai mandatnya Komnas Perempuan memfokuskan diri pada upaya penghapusan kekerasan terhadap perempuan serta upaya menciptakan suasana kondusif bagi pemenuhan hak asasi perempuan, termasuk hak-hak perempuan   korban kekerasan, yaitu hak atas kebenaran, keadilan dan pemulihan. Untuk mewujutkan mandatnya kmnas perempuan bekerja dengan membentuk 4 sub komisi, yaitu sub komisi Reformasi Hukum,Sub Kom Pemulihan,Sukom Pemantauan dan Sub Kom Litbang dan Pendidikan.

Komnas Perempuan dalam menjalankan mandatnya bermitra kerja dengan institusi pemerintah, LSM,Organisasi sosial dan budaya, organisasi agama dan PT di pusat maupun daerah, regional maupun internasional.

Sub Kom  Reformasi Hukum dan Kebijakan pada periode 2007-2009 salah satu program kerjanya menjalin hubungan dengan  aparat penegak hukum dan organisasi kemasyakatan sipil (Penguatan Penagak Hukum/PPH). Hasil dari kerjasama ini telah terwujud dari Sistem Peradilan Pidana Terpadu (SPPT) antara aparat penegak hukum dan para advokat/pengacara.

Pada bulan November 2007, telah terselenggara  Pelatihan  bagi Hakim Peradilan Agama dengan materi KDRT. Pelatihan ini  dimasudkan untuk mengembangkan bangunan pengetahuan tentang KDRT, tidak hanya yang diatur dalam hukum nasional  (UU PKDRT), tetapi juga hukum Islam. Menangkap antusiasme permintaan dari para hakim PA dalam pelatihan tersebut diatas, agar ada buku Referensi bagi mereka tentang KDRT, maka Komnas Perempuan menyelenggarakan workshop untuk penyusunan materi buku. Buku Referensi ini telah dilaunching pada bulan Juli 2008 bersama Ketua Muda Urusan Lingkungan Agama MA-RI dan Dirjen Badan Peradilan Agama MA-RI. Keberadaan buku referensi ini nantinya diharapkan mampu memberikan gambaran yang lebih komprehensif tentang KDRT bagi hakim PA, sebagai tempat terakhir bagi kebanyakan perempuan korban menggapai keadilan dan mengungkap kebenaran. Kerja-kerja ini akan terus dilanjutkan dan dikembangkan dengan menggandeng kehakiman seperti pelatihan untuk para hakim pengadilan negeri tentang KDRT, SPPT bagi pendamping korban, pendataan kasus KDRT di kejaksaan, dan advokasi  revisi KUHAP.

Hal lain yang menjadi harapan besar bagi Komnas Perempuan  sebagai upaya perlindungan terhadap korban yang belum maksimal diberikan oleh negara, adalah keberadaan LPSK. Dengan terpilihnya anggota Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban usaha perindungan sebagaimana yang tertera dalam UU PKDRT yakni segala upaya yang ditujukan untuk memberikan rasa aman kepada korban yang dilakukan oleh pihak keluarga, advokat, lembaga sosial, kepolisian, kejaksaan, pengadilan, atau pihak lainnya baik sementara maupun berdasarkan penetapan pengadilan dapat segera terwujud. Sehingga terjadi kerja-kerja sinergi dalam memenuhi hak-hak korban. Semoga.

Komentar  

 
#46 brapa th kah KDRT dengan luka biru ditangan 24 Maret 2014 15:38
Ibu saya ingin tanya, adik saya kena kasus KDRT,awal mula terjadi keributan dlm RT adik saya mendorong istrinya, setalh kejadian to istrinya dengan hasil fisum biru ditangan memasukan adik saya dipenjara dan tanpa mau mencabut tuntutan to, yg saya tanyakan berapa lama hukuman yg akan diterima krn melihat UUG KUHP th 2004 seharusnya dengan kasus nih kan tdk berdarah dan istri masih bisa bekerja di dlm UUD pasal 44 ayat 4 kan mestinya 4bln tahan iya ibu, namun kenapa adik saya dituntut pasal 44 ayat 1 iya ibu, apakah dipersidangan bisa diperjuangkan pembelaaan nih, terima kasih.
Quote
 
 
#45 RE: Undang-undang No. 23 tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga (UU-PKDRT) 30 Oktober 2013 11:38

Bu,,, saya mempunyai family yg dlm pertikaian RT,awalnya mereka cek-cok mulut dan kemudian sang istri mengambil golok utk membacok sang suami dan spontanitas sang suami menggigit pergelangan sang istri utk melepaskan golok itu setelah kejadian itu sang istri melapor ke polisian dan sang suami dikenakan pasal KDRT
pertanyaannya apakah sang suami bisa membeladiri dgn pasal 49 KUHP dan apakah dgn kronologi seperti itu di katakan KDRT???
mohon dibantu solusinya Bu,,,
Quote
 
 
#44 kasus KDRT atau penganiayaan ringan,,??? 30 Oktober 2013 11:31
Bu,,, saya mempunyai family yg lg dlm pertikaian,keja dian ini blm adaseminggu. awalnya mereka bertengkar adu mulut dan akhirnya sang istri menggambil golok untuk membacok suaminya kemudian sang suami menggigit pergelangan tangan sang istri guna melepaskan golok yg hendak dibacokkan ke dirinya, setelah kejadian itu sang istri melapor ke polisi dgn laporan KDRT jd pertanyaan saya ;masalah ini apakah KDRT atau penganiayaan dan apakah pihak suami bisa menggunakan pasal 49 sebagai pembelaan diri,,,??? mohon dibantu solusinya dan terima kasih :
Quote
 
 
#43 RE: Undang-undang No. 23 tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga (UU-PKDRT)hasmiah 28 Oktober 2013 19:30
Assalamu alaikum....
sy mau nanya apakah seorang kakak memukul adiknya karena sdh bersikap kasar kpd org tua bisa di jerat hukum kdrt? mohon infonya
Quote
 
 
#42 upayakan jangan pakai kekerasan 22 September 2013 20:07
bagaimanapun suaami istri yang telah terjadi ikatan apalagi sudah memiliki anak, apabila terjadi perselisihan dalam suatu keluarega pasti akan berdampak pada anaknya, untuk itu jangan sampai dalam perselisihan itu terjadi kekerasan fisik.
Quote
 
 
#41 DIMANA LETAK HUKUM PIDANA DAN PERDATAandrini 07 September 2013 10:14
SELAMAT SIANG..
LETAK HUKUM PIDANA DAN PERDATA YANG MANA BISA SAYA PAKAI DI SAAT SAYA MENGHADAPI SIDANG PERCERAIAN DENGAN GUGATAN DARI SUAMI SAYA??? DI SAAT SAYA SUDAH DI TALAK 4 THN LALU DAN KENAPA DI SAAT SAYA MENGAMBIL LANGKAH HIDUP SENDRI MALAH SKR2 DI GUGAT DNGAN MEMBAWA NAMA. ORG KE.3 DALAM KASUS PERCERAIAN PDAHAL TIDAK PERNAH ADA ORG'KE 3 DI SAAT SUAMI SAYA TALAK DAN SDH TIDAK MAU MENAFKAHI SAYA SELAMA 3 THN.. APA'KAH BISA SAYA MENUNTUT DENGAN MENCEMARKAN NAMA BAIK SAYA DAN NAMA BAIK ORG KE.3 YANG DIA BUAT DALAM ISI SURAT CERAI'ITU??
Quote
 
 
#40 Dimana keadilan buat aku? 10 Juli 2013 00:54
Ibu Ninik saya butuh bantuan Anda...bisa tolong beri saya nomer hp? saya ingin share secara pribadi karna masalah saya sangat rumit dan banyak rekayasa...
Quote
 
 
#39 poknum polisi aniaya istri berulang kali 29 April 2013 08:15
KDRT yg dilakukan oknum polisi terhadap istrinya sudah berulang kali terjadi dan bahkan sudah berulang kali juga dilakukan damai secaara kekeluargaan dan bahkan dilakukan perdamaian Hitam diatas Putih berupa diatas kertas yang bermateraikan, akan tetapi KDRT tetap berlanjut. Puncaknya si korban KDRT melaporkan Si Suami ( oknum Polisi POLRES OKI Sumatera Selatan ).
Permasalahannya sekarang Kasus hukum yang sudah sampai di Kejaksaan OKI ( Kayu agung ) "tidak pernah berjalan" yang seakan-akan di kesampingkan...
Kepada siapa lagi sang istri harus melapor yang dimana hingga sampai saat ini Si IbU ( Rani dan anak ) ditelantarkan tidak pernah diberi lagi biaya nafkah hingga mencapai 1 ( satu tahun ) lamanya.
Quote
 
 
#38 laki-laki korban KDRT 19 April 2013 11:52
saya ada teman yang korban kdrt, yang mana kawan saya punya istri, istri tersebut sering meninggalkan rumah dan ditinggalkan kedua anak yang masih dibawah umur, pada tahun 2005 melahirkan anak yang kedua, stlh 2 hr melahirkn, istri mengglkan rumah beserta dibawa anak yg br dilahirkan, sekira 1 bln suami menjemput keduanya istri dan anak yang bayi, akan ttpi, si isteri tdk mau pulg melainkan dikasih anak bayi tersebut kpd suami, dan sekira 8 bln si isteri baru plg kermh, singkat cerita si istri sering pergi tanpa izin dari suami, dan sejak awal thn 2011 s/d sekarg tdk pulang2 lagi dan anak tetap sama suami karena si istri tdk mau membawa anak, dan suami sudah mengantarkan anak pada si istri dan suami yg bertanggungjawa b mengenai nafkah anak, akan tetapi si istri tetap menolak anak, yang jd pertanyaan, apakah dengan menterlantarkan anak dan meninggalkan suami tanpa ada proses hukum bisa dikatakan kdrt terhadap si isteri??? :-x
Quote
 
 
#37 Saya mengalaminya sendiri 21 Januari 2013 10:09
Bagaimana jika saya mengalaminya sendiri?. di pukul, di hina, di aniaya, dan tidak di berikan nafkah selama bertahun-tahun?... Mau menuntut cerai anak sudah terlanjur banyak!.
Quote
 
 
#36 pengertian 18 Januari 2013 11:03
bu, pengertian dalam pasal 8 huruf b tentang "tujuan tertentu" contohnya seperti apa ya?
Quote
 
 
#35 KRITISI 30 November 2012 19:40
:lol: IBU NINIK RAHAYU,Saya sangat bangga dengan tulisan andah di atas,anda pasti seorang wanita yang penuh pengorbanan,set ia dan taat pada suami,tapi ibu tolong kaji kembali tentang pasal-pasal yang terdapat pada Undang-Undang KDRT tersebut,jika undang-undang tersebut melindungi semua pihak dalam suatu keluarga barulah bisa dikatakan baik.tetapi yang saya lihat undang-undang terebut hanya melindungi pihak perempuan saja,jadi tolong ibu pahami baik-baik.TERIMA KASIH......
Quote
 
 
#34 Bgm jika suami yg jadi korban? 19 Oktober 2012 13:34
Sudah dua bulan istri saya beserta ketiga anak-anak saya (14th,10th, dan 7 th) pergi keluar dari rumah tanpa seijin saya, dan pergi ke rumah ortunya dilain provinsi. Kepergiannya adalah akibat dari hasutan saudara kandungnya karena menuduh saya selingkuh, padahal itu tidak benar. Anak saya yang umur 14th ikut keluarga istri sayatsb, sementara istri dan kedua anak saya yang lain tidak diketahui keberadaannya karena komunikasi kepada saya telah diputuskan, ditelpon tak dijawab,sms tak dibalas,dan keluarga istri sy tutup mulut. Yang menyedihkan, baru dua bulan ikut keluarga istri saya, anak tertua saya tsb dieksploitasi utk bekerja memenuhi kebutuhan sekolahnya. Saya sendiri tak dibolehkan menemui anak tua saya tsb. Apakah dapat saya menuntut keluarga istri saya tsb kepolisi?
Quote
 
 
#33 hak dan kewajiban 03 Oktober 2012 07:00
kekerasan (KDRT) sering terjadi disebabkab 'PELAKU' tak faham atau tak mendalami apa itu HAK DAN KEWAJIBAN dalam rumah Tg.
Quote
 
 
#32 wanita nusyuz yang mata duitan 25 September 2012 23:28
hukum tersebut sangat memberikan kebebasan bagi wanita2 yang gak bener untuk nglunjak. hanya ingin uang dan uang. agama anda apa? kembalilah ke agama anda itu telah diatur dan dibalas oleh Tuhanmu. anda masih tidak terima dengan aturan agama anda? anda sendiri yg jawab.
Quote
 
 
#31 Pelaku KDRT 19 Juni 2012 10:25
Setelah saya baca tulisan maupun komentar di atas yang menjadi sorotan KDRT adalah bapak sbg pelakunya yang menjadi pertanyaan saya , apakah masuk KDRT kalau si pelakunya sang anak kepada orang tuanya, istri terhadap suaminya, sebab dalam rumah tangga itu ada ibu, bapak, dan anak. mohon penjelasan pasal pasal yang digunakan untuk menjerat pelaku contoh kasusnya. terima kasih
Quote
 
 
+1 #30 RE: Undang-undang No. 23 tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga (UU-PKDRT) 12 Juni 2012 20:56
yang ada wanita sekarang makin ngelunjak,semau 2 dengan perlindungannya ..menyalah gunakan hak nya tanpa memperhatikan apa yang sudah diperbuat sebelumnya
Quote
 
 
#29 tetanngga ku yg di aniyaya 06 Juni 2012 22:26
Aku kebetulan pengurus pkk di kecamatan sebagai ketua pokja 1...aku sering mendapat keluhan dari kader2 ku yg sering meliht tetangga nya yg di aniya...tapi pas aku comfirmasi ia ga mau mengakui nya(Orang yg di aniyaya) lalu gimna aku harus bertindak agar para korban kdrt berani bertindak.... ?
Quote
 
 
#28 Takut melaporkan KDRT 03 Juni 2012 23:25
jika dalam rumah tangga terjadi tindakan KDRT yang dilakukan suami kepada istri dan istri pun tidak berani melaporkan kepada yang lembaga yg berkompeten dalam urusan ini. mohon penjelasannya...Trim
Quote
 
 
#27 RE: Undang-undang No. 23 tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga (UU-PKDRT) 28 May 2012 09:51
Mohon penjelasan apakah membiarkan istri sakit tidak dirawat malah menikah lagi dalam keadaan istri sakit dan tanpa ijin dari sehingga istri sakit sampai meninggal dunia apa ini termasuk KDRT? Terimakasih
Quote
 

Kirim Komentar

Kode Pengaman
Refresh

Gabung di Komunitas


Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia
Direktorat Jenderal Peraturan Perundang-undangan

Jl. H.R. Rasuna Said Kav. 6 - 7 Jakarta Selatan
Telp. (021) 5221618 Fax. (021) 5265480
Email: admin @ djpp.info
www.djpp.kemenkumham.go.id
www.ditjenpp.kemenkumham.go.id